Khatam Qur'an di aceh menjadi salah satu budaya daerah

Khatam Qur'an di aceh menjadi salah satu budaya daerah



khatam Al Qur'an
khatam Al Qur'an
Khatam Qur'an di aceh merupakan salah satu kebiasaan warga aceh yaitu dengan membaca Al Qur'an sampai selesai pada waktu tertentu, Misalkan bulan Ramadhan , prosesi pernikahan di aceh dengan adat melayu aceh yang dimana sesinya itu untuk membaca Al Qu'an sampai tamat. Tidak bisa di elak kan lagi bahwa Aceh adalah serambi mekkah indoneisa yang dimana ajaran islam begitu kental bagi warga aceh, hukuman dan aturan pun memakai ajaran Islam.

Masyarakat di wilayah pesisir pantai selatan Aceh itu melaksanakan Syariat Islam setelah mereka mempelajari ajaran Islam yang dikembangkan dua ulama besar, Syekh Abdurrauf As-Singkili dan Syekh Hamzah Fansuri.

Bupati Kabupaten Aceh Singkil, H Makmursyah Putra mengatakan, kehadiran kedua ulama besar dari jazirah Arab itu telah berhasil menyadarkan masyarakat dengan menjadikan Syariat Islam sebagai pedoman dalam mengharungi hidup.Adat-istiadat (budaya) yang berkembang di masyarakat Aceh Singkil kini, mulai dari sunah rasul (khitanan) dan adat perkawinan hingga turun tanah anak bayi (“cuko ok” sebutan di Aceh) semuanya berakar dari ajaran Islam.


Ia menyebutkan contoh adat perkawinan. Bagi pengantin wanita sebelum melangsungkan akad nikah terlebih dahulu diuji kemampuan membaca Al-Quran secara benar (dalam adat masyarakat Aceh Singkil disebut malam khatam Al-Quran).Dari tradisi itu telah menggugahkan semua generasi muda di daerah ini (perempuan dan laki-laki) untuk belajar agar mampu membaca Al-Quran karena mereka khawatir ditunda akad nikah menjelang pesta adat perkawinan nanti.


Identitas Islam lainnya juga terlihat dari cara kaum wanita di Aceh Singkil berpakaian sehari-hari, termasuk anak baru gede (ABG), yakni merasa kurang percaya diri (pede) keluar rumah sebelum mengenakan pakaian muslimah.Aceh Singkil yang memiliki luas 3.964 Km persegi dengan penduduk 112.556 jiwa itu memperoleh peningkatan status menjadi Kabupaten April 1999, setelah sebelumnya tergabung dalam Kabupaten Aceh Selatan.



“Yang menarik, meskipun wilayah Singkil dihuni berbagai suku di Sumatera, seperti Alas, Fak-fak, Aceh, Nias, Padang, Melayu dan Batak, namun 97 persen mereka menganut Islam,” kata Makmursyah Putra.Pembauran tujuh suku bangsa di wilayah itu bukan saja ikut mempengaruhi adat dan budaya, tetapi juga telah melahirkan bahasa yang berbeda dengan masyarakat di Aceh lainnya, lebih dominan digunakan bahasa Singkil serumpun–Alas dan Fak-fak serta bahasa pesisir mirip Minang.

“Dari pembauran etnis itu juga telah melahirkan gaya dielek masyarakat Aceh Singkil yang khas,” katanya.
































EmoticonEmoticon

Translate To Your Language